Minggu, 06 Juni 2010

PENGARUH FAKTOR INTERNAL BANK TERHADAP VOLUME KREDIT PADA BANK YANG GO PUBLIC DI INDONESIA

ABSTRACT

The objective of this research is to know the influence of bank internal factors to credit volume of banking that go public in Indonesia. This research use bank internal factors as independent variable and credit volume as dependent variable. Bank internal factors measured by third party fund (X1), capital adequacy ratio (X2), return on asset (X3) and non performing loan (X4).

This research use associative method. Data pooling use in this research is a combination among cross section and time series that its got from 3 years annual report of 22 bank listing in Bursa Efek Indonesia period 2005-2007. The analysis method used statistical method which is double linear regression, t test and F test. T test is used to analysis the partial influence of independent variable to dependent variable. F test is used to analysis simultaneous of independent variable to dependent variable.

The result of this research shows that third party fund and return on asset have positive and significant influence to credit volume, it shows from t arithmethic > t table ( 28,885 > 1,999 and 2,583 > 1,999) with signification 0,000 and 0,12 that is small than 0,05. Capital adequacy ratio (CAR) have positive and not significant influence to credit volume, it shows from t arithmethic > t table (0,727 < 1,999) with signification 0,470 > 0,05. Non performing loan (NPL) have negative and not significant influence to credit volume, it shows from t arithmethic > t table (1,706 < 1,999) with signification 0,093 > 0,05. The result of F test shows F arithmethic > F table with signification 0,000 < 0,05. From the analysis result, can take conclusion that third party fund, capital adequacy ratio, return on asset and non performing loan have simultaneous influence to credit volume.



Keywords: Third Party Fund, Capital Adequacy Ratio, Return on Asset, Non Performing Loan, Credit



1. PENDAHULUAN

Dalam UU No.10 tahun 1998 dikatakan bahwa “bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya, dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat banyak”. Dengan demikian, bank merupakan bagian dari lembaga keuangan yang memiliki fungsi intermediasi yaitu menghimpun dana dari masyarakat yang kelebihan dana dan menyalurkan dana yang dihimpunnya kepada masyarakat yang kekurangan dana (Abdullah, 2005:17).

Masyarakat yang kelebihan dana dapat menyimpan dananya di bank dalam bentuk giro, deposito, tabungan, dan bentuk lain yang dipersamakan dengan itu sesuai kebutuhan dan disebut sebagai dana pihak ketiga. Sementara masyarakat yang kekurangan dan membutuhkan dana dapat mengajukan pinjaman atau kredit pada bank. Penyaluran kredit merupakan kegiatan yang mendominasi usaha bank dalam fungsinya sebagai lembaga intermediasi. Selain untuk mensejahterakan masyarakat, kredit yang dilaksanakan oleh bank juga bertujuan untuk memperoleh laba, yang berasal dari selisih bunga tabungan yang diberikan pada nasabah penabung dengan bunga yang diperoleh dari nasabah debitor dan merupakan sumber utama pendapatan bank.

Lukman Dendawijaya (2005:49) mengemukakan bahwa “dana-dana yang dihimpun dari masyarakat dapat mencapai 80%-90% dari seluruh dana yang dikelola bank dan kegiatan perkreditan mencapai 70%-80% dari kegiatan usaha bank”. Menurut Dahlan Siamat (2005:349) “salah satu alasan terkonsentrasinya usaha bank dalam penyaluran kredit adalah sifat usaha bank sebagai lembaga intermediasi antara unit surplus dengan unit defisit dan sumber utama dana bank berasal dari masyarakat sehingga secara moral mereka harus menyalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit”. Sebagaimana umumnya negara berkembang, sumber pembiayaan dunia usaha di Indonesia masih didominasi oleh penyaluran kredit perbankan yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.

Bank dalam menyalurkan kreditnya dipengaruhi baik oleh faktor eksternal bank seperti peraturan moneter yang berlaku, persaingan, situasi sosial politik, karakteristik usaha nasabah, suku bunga dan sebagainya, maupun dipengaruhi faktor internal bank seperti kemampuan bank dalam menghimpun dana, financial position (capital adequacy ratio, aktiva tertimbang menurut resiko, batas maksimum pemberian kredit), kualitas aktiva produktifnya dan faktor produksi yang tersedia di bank (Teguh Pudjo Muljono, 1996:210). Menurut Warjiyo (2005:435) “perilaku penawaran atau penyaluran kredit perbankan dipengaruhi oleh suku bunga, persepsi bank terhadap prospek usaha debitur dan faktor lain seperti karakteristik internal bank yang meliputi sumber dana pihak ketiga, permodalan yang dapat diukur dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio) dan jumlah kredit bermasalah (non performing loan)”. Muliaman Hadad (2004:22) menambahkan selain faktor-faktor tersebut, faktor profitabilitas atau tingkat keuntungan yang tercermin dalam rasio return on assets juga berpengaruh terhadap keputusan bank untuk menyalurkan kredit.

Krisis ekonomi tahun 1997 yang terjadi di Indonesia telah mengakibatkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap perbankan menurun sehingga perbankan kesulitan dalam menghimpun dana dari masyarakat, yang menyebabkan masyarakat takut kalau dana yang telah dititipkan tidak dapat dikembalikan. Menurut Harmanta dan Ekananda (2005:71):

Dari sisi perbankan, krisis tersebut mengakibatkan melambatnya pertumbuhan dana pihak ketiga dan berdampak menurunnya lending capacity perbankan, sehingga mengurangi kemampuan bank dalam menyalurkan kredit. Selain itu, kondisi perbankan itu sendiri seperti masih tingginya kredit macet yang dialami perbankan dan timbulnya masalah penurunan permodalan berakibat pada turunnya kemampuan bank dalam menyalurkan kredit.



Beberapa tahun terakhir setelah krisis, kinerja sektor perbankan menunjukkan trend yang terus membaik, tercermin dari pulihnya kepercayaan terhadap perbankan dengan adanya program penjaminan pemerintah telah mendorong kenaikan dana pihak ketiga. Selain itu, program rekapitalisasi perbankan telah memulihkan permodalan bank, berkurangnya non performing loan dan meningkatnya profitabilitas bank. Menurut Warjiyo (2005:435) “fungsi intermediasi perbankan terus mengalami perbaikan seiring dengan pulihnya kepercayaan masyarakat, permodalan dan kualitas asset, tetapi penyaluran kredit masih tergolong lambat di Indonesia”. Berdasarkan laporan perkembangan perbankan dari bank Indonesia hingga akhir 2007 dikatakan bahwa “kinerja indusri perbankan terus membaik dengan peran intermediasi yang semakin meningkat dan telah meningkatkan profitabilitas perbankan, meskipun perbandingan antara seluruh jumlah kredit yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank yang tercermin dalam loan to deposit ratio belum mencapai 80% sesuai yang ditetapkan Bank Indonesia”.



2. LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Menurut Teguh Pudjo Mulyono (1996:210) faktor-faktor internal yang mempengaruhi volume penyaluran kredit antara lain:

o sifat usaha dan segmen pasar bank itu sendiri,

o financial position seperti capital adequacy ratio, aktiva tertimbang menurut resiko, batas maksimum pemberian kredit,

o kemampuan dalam menghimpun dana, terutama dana pihak ketiga,

o kualitas aktiva produktifnya, terutama kualitas kredit,

o Faktor-faktor produksi yang tersedia di bank seperti kemampuan manajemen.

Menurut Warjiyo (2005:435) “perilaku penawaran atau penyaluran kredit perbankan dipengaruhi oleh suku bunga, persepsi bank terhadap prospek usaha debitur dan faktor lain seperti karakteristik internal bank yang meliputi sumber dana pihak ketiga, permodalan yang dapat diukur dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio) dan jumlah kredit bermasalah (non performing loan)”. Muliaman Hadad (2004:22) menambahkan selain faktor-faktor tersebut, faktor profitabilitas atau tingkat keuntungan yang tercermin dalam return on assets juga berpengaruh terhadap keputusan bank untuk menyalurkan kredit.

. Penelitian terdahulu antara lain adalah Meydianawathi (2006) meneliti pengaruh dana pihak ketiga, capital adequacy ratio dan non performing loan terhadap penyaluran kredit kepada sektor UMKM periode 2002-2005 pada bank umum di Indonesia, analisis dilakukan secara agregat terhadap toatal kredit yang disalurkan.. Mahrinasari (2003) meneliti pengaruh cash ratio dan return on asset terhadap penyaluran kredit periode februari 2000-juli 2002 pada Bank Perkreditan Rakyat Lampung. Kemudian Harmanta dan Ekananda (2005) menyimpulkan penyaluran kredit merupakan formula dari dana pihak ketiga, kapasitas kredit, suku bunga sertifikat bank indonesia, suku bunga kredit rata-rata bank umum, kredit bermasalah dan variabel dummy periode 1997-2003 pada bank umum di Indonesia.

Dana Pihak Ketiga merupakan sumber dana bank yang berasal dari masyarakat sebagai nasabah dalam bentuk simpanan giro, tabungan dan deposito. Berdasarkan UU No.10 tahun 1998, dapat dikatakan bahwa besarnya penyaluran kredit bergantung kepada besarnya dana pihak ketiga yang dapat dihimpun oleh perbankan. Umumnya dana yang dihimpun oleh perbankan dari masyarakat akan digunakan untuk pendanaan aktivitas sektor riil melalui penyaluran kredit (Warjiyo, 2005:432).

Permodalan bank yang cukup atau banyak sangat penting karena modal bank dimaksudkan untuk memperlancar operasional sebuah bank (Siamat, 2005:287). Berdasarkan peraturan dari Bank Indonesia No. 3/21/PBI/2001, setiap bank wajib memenuhi kecukupan modal 8%. Tingkat kecukupan modal pada perbankan diwakilkan dengan rasio capital adequacy ratio (CAR). CAR memperlihatkan seberapa besar jumlah seluruh aktiva bank yang mengandung resiko, yang dibiayai dari modal sendiri. Kecukupan modal yang tinggi dan memadai akan meningkatkan volume kredit perbankan (Warjiyo, 2005:435).

Profitabilitas merupakan tingkat kemampuan bank dalam meningkatkan labanya. Tingkat profitabilitas dapat diukur menggunakan rasio return on asset (ROA), yang merupakan rasio untuk mengukur kemampuan manajemen dalam mengelola aktiva untuk menghasilkan laba. Rasio ini merupakan salah satu unsur dalam mengukur tingkat kesehatan bank (CAMEL) oleh Bank Indonesia. Menurut Muliaman Hadad (2004:22):

Return on asset adalah indikator yang akan menunjukkan bahwa apabila rasio ini meningkat maka aktiva bank telah digunakan dengan optimal untuk memperoleh pendapatan sehingga diperkirakan ROA dan kredit memiliki hubungan yang positif. Dalam kegiatan usaha bank yang mendorong perekonomian, rasio ROA yang tinggi menunjukkan bank telah menyalurkan kredit dan memperoleh pendapatan.



Kredit bermasalah (non performing loan) dapat diartikan sebagai pinjaman yang mengalami kesulitan pelunasan akibat adanya faktor kesengajaan seperti penyimpangan yang dilakukan debitur maupun faktor ketidaksengajaan atau faktor eksternal diluar kemampuan kendali debitur seperti kondisi ekonomi yang buruk. Kredit bermasalah dapat diukur dari kolektibilitasnya, merupakan persentase jumlah kredit bermasalah (dengan kriteria kurang lancar, diragukan dan macet) terhadap total kredit yang dikeluarkan bank. Kredit bermasalah yang tinggi dapat menimbulkan keengganan bank untuk menyalurkan kredit karena harus membentuk cadangan penghapusan yang besar.

Berdasarkan dari uraian teori, penjelasan yang mendukungnya dan hasil penelitian sebelumnya, maka yang menjadi hipotesis penelitian ini adalah:

Faktor Internal Bank (dana pihak ketiga, capital adequacy ratio, non performing loan dan return on asset) berpengaruh terhadap volume kredit pada bank yang go public di Indonesia.



3. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh bank-bank yang go public di Indonesia dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2005 sampai dengan tahun 2007. Jumlah populasi yang ada adalah 23 bank pada tahun 2005, 26 bank pada tahun 2006 dan 31 bank pada tahun 2007. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiono, 2004:78). Beberapa pertimbangan yang digunakan dalam menentukan sampel adalah:

1. Bank-bank tersebut terdaftar di Bursa Efek Jakarta (Indonesia) pada tahun 2005, 2006 dan 2007

2. Bank-bank tersebut tidak sedang berada dalam proses delisting pada periode tersebut,

3. Menerbitkan dan mempublikasikan laporan keuangan pada periode 2005-2007.

Hasil seleksi dengan menggunakan metode purposive sampling mendapatkan 66 sampel penelitian.

3.2 Variabel Penelitian

Variabel independen (bebas), merupakan variabel yang mempengaruhi variabel lain (Umar, 2003:50). Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah dana pihak ketiga, capital adequacy ratio, return on asset dan non performing loan. Variabel independen disimbolkan dengan “X1” (dana pihak ketiga atau DPK), “X2” (capital adequacy ratio atau CAR), “X3” (return on asset atau ROA) dan “X4” (non performing loan atau NPL).

Variabel dependen (terikat), merupakan variabel yang dijelaskan atau yang dipengaruhi oleh variabel independen. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah jumlah atau volume penyaluran kredit. Variabel dependen disimbolkan dengan “Y”.

Menurut Jogiyanto (2004:62), “Definisi operasional adalah menjelaskan karakteristik dari objek ke dalam elemen-elemen yang dapat diobservasi yang menyebabkan konsep dapat diukur dan dioperasionaliasikan di dalam riset”.

a. Dana pihak ketiga (DPK) merupakan sumber dana bank yang dihimpun dari masyarakat sebagai nasabah dalam bentuk simpanan giro, tabungan dari deposito (Abdullah, 2005:33).

b. Rasio Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio / CAR) digunakan untuk mengukur kecukupan modal bank dalam menyanggah resiko dari aktiva bank (Dendawijaya, 2005:121). Menurut Siamat (2005:254) “perhitungan rasio kecukupan modal dilakukan dengan menbandingkan jumlah modal yang dimiliki (modal inti dan modal pelengkap) bank dengan aktiva tertimbang menurut resiko”. Dalam menghitung aktiva tertimbang menurut resiko, terhadap masing-masing aktiva diberikan bobot resiko yang besarnya didasarkan pada kadar resiko yang terkandung padaaktiva.














c. ROA (Return on Asset) digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan (Dendawijaya, 2000:120). Semakin besar ROA maka semakin besar tingkat keuntungan yang dicapai bank dan semakin baik posisi dana tersebut dari segi penggunaan asset.














d. Kredit Bermasalah (Non Performing Loan) dapat diartikan sebagai pinjaman yang mengalami kesulitan pelunasan akibat adanya faktor kesengajaan maupun ketidaksengajaan atau faktor eksternal di luar kemampuan kendali debitur seperti kondisi ekonomi yang buruk. NPL merupakan persentase jumlah kredit bermasalah (dengan kriteria kurang lancar, diragukan dan macet) terhadap total kredit yang disalurkan bank (Siamat 2005:358).

e. Kredit merupakan penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

3.3 Prosedur Pengambilan Data

Jenis Data yang digunakan berupa data sekunder yaitu data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi dan tidak memerlukan pengolahan lebih lanjut seperti laporan keuangan tahunan. Data diperoleh dari media internet melalui situs www.idx.co.id berupa laporan keuangan bank yang dipublikasikan.

Data diperoleh dengan cara mendapatkannya dari luar perusahaan, yang disebut data eksternal (Umar, 2001:70). Dilihat dari dimensi waktu, data yang digunakan adalah data pooling yaitu data yang diperoleh adalah kombinasi antara data runtun waktu (time series) dan data silang tempat (cross section).

Data time series pada penelitian ini adalah data laporan keuangan tahunan perusahaan perbankan yang diterbitkan selama 3 tahun. Periode pengamatan yang digunakan adalah tahun 2005-2007. Penggabungan data cross section sebanyak 22 perusahaan perbankan dan data time series selama 3 tahun menghasilkan 66 observasi (22 X 3). Pengujian parametrik dilakukan karena jumlah observasi sudah memenuhi syarat (66 ≥ 30).

3.4 Metode dan Teknik Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis statistik dengan menggunakan SPSS 15. Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi berganda untuk menganalisis besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Pengujian yang dapat dilakukan meliputi uji asumsi klasik dan uji hipotesis. Besarnya alpha yang digunakan adalah 5%.

a. Uji asumsi klasik terhadap sampel adalah uji normalitas, uji multikolinearitas, uji autokorelasi dan uji heteroskedatisitas. Pengujian terhadap normalitas data dilakukan agar asumsi dalam statistika parametrik dapat terpenuhi. Uji multikolinearitas untuk melihat apakah ada korelasi yang sangat kuat antar variabel independen. Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah suatu model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 atau sebelumnya. Uji heterokedasitas ini adalah untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain.

b. Uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen.

Y=a + b1 X1 + b2 X2 + b3 X3 + b4 X4 + e

Dimana:

Y = (jumlah/volume) penyaluran kredit

a = konstanta

b1,b2,b3,b4= koefisien regresi yang menunjukkan angka peningkatan ataupun penurunan variabel dependen yang didasarkan pada variabel independen.

X1 = dana pihak ketiga

X2 = CAR (capital adequacy ratio)

X3 = ROA (return on asset)

X4 = NPL (non performing loan)

e = tingkat kesalahan penganggu

Hipotesis yang akan diuji yaitu:

Ho : β1 = β2 = β3 = β4

Artinya tidak semua variabel independen berpengaruh secara simultan.

Ha : β1 ≠ β2 ≠ β3 ≠ β4

Artinya semua variabel independen berpengaruh secara simultan.

Untuk menguji hipotesis ini, digunakan statistic F dengan membandingkan F hitung dengan F tabel dengan kriteria pengambilan keputusan sebagai berikut:

Jika Fhitung > Ftabel, maka Ha diterima (α =5%)

Jika Fhitung < Ftabel, maka Ho diterima (α =5%)

Untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial digunakan uji t. Uji ini dilakukan untuk menentukan apakah dua sampel yang tidak berhubungan memiliki rata-rata yang sama atau tidak sama secara signifikan.

Ho : βi = 0

Artinya suatu variabel independen yang sedang diuji bukan merupakan penjelas signifikan terhadap variabel dependen.

Ha : βi ≠ 0

Artinya variabel independen tersebut merupakan penjelas signifikan terhadap variabel dependen.

Uji ini dapat dilakukan dengan membandingkan t hitung dengan t table dengan ketentuan sebagai berikut:

Jika thitung > ttabel, maka Ha diterima (α =5%)

Jika thitung < ttabel, maka Ha ditolak (α =5%)



4. ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Uji Normalitas

Pengujian normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji statistik non-parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S), apabila signifikansi lebih besar dari 0.05 maka H0 diterima, sedangkan jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0.05 maka H0 ditolak.

Dari hasil pengolahan data (tabel 1,lampiran),. secara keseluruhan data tidak terdistribusi normal karena unstandarized residual lebih kecil dari 0,05. Untuk itu data di-treatment menggunakan model log-log (Nachrowi, 2002:86), yaitu melakukan transformasi data ke model logaritma natural (LN). Kredit = f(DPK, CAR, ROA, NPL) menjadi LN_Kredit = f (LN_DPK,LN_CAR,LN_ROA,LN_NPL). Dari tabel 5 (lampiran), dapat disimpulkan bahwa data dalam model regresi setelah dilakukan transformasi data dalam bentuk logaritma natural, terdistribusi secara normal unstandarized residual >0,05

4.2 Uji Multikolinearitas

Untuk mengetahui ada tidaknya multikolinearitas dapat dilihat dari nilai Variance Inflation Factor (VIF), apabila nilai VIF > 10 dan nilai tolerance < 0.1 maka terjadi multikolinearitas (Ghozali, 2005:92).

Dari data pada tabel 3 (lampiran), dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas dengan dasar nilai VIF untuk setiap variabel independen tidak ada yang melebihi 10 dan nilai tolerance tidak ada yang kurang dari 0.1 , maka dapat dilakukan analisis lebih lanjut dengan menggunakan model regresi berganda.

4.3 Uji Autokorelasi

Untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi, dapat digunakan uji Durbin Watson. Hasil uji autokorelasi pada tabel 4 (lampiran), menunjukkan nilai statistik Durbin-Watson (DW) sebesar 2,105 , nilai ini akan dibandingkan dengan nilai tabel Durbin-Watson dengan menggunakan signifikansi 5%, jumlah sampel 66 (n) dan jumlah variabel independen 4 (k=4), maka di tabel Durbin-Watson didapat nilai batas atas (du) 1,7318 dan nilai batas bawah (dl) 1,4756 . Oleh karena itu, nilai DW berada diantara batas atas (DU) dan 4-DU (1.7318 < 2.105 < 2.2682), berarti tidak ada autokorelasi.

4.4 Uji Heteroskedatisitas

Dalam penelitian ini, untuk mendeteksi ada tidaknya gejala heteroskedastisitas adalah dengan melihat plot grafik yang dihasilkan dari pengolahan data menggunakan program SPSS. Jika tidak ada pola tertentu, serta titik-titik yang menyebar tidak tertentu diatas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedatisitas atau terjadi homokedastisitas.

Dari grafik scatterplot (gambar 1, lampiran) terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak serta tersebar baik diatas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi. Dengan demikian, model ini layak dipakai untuk memprediksi jumlah volume kredit pada perusahaan perbankan yang go public di Indonesia berdasarkan masukan variabel independen DPK, CAR, ROA dan NPL.

4.5 Uji Hipotesis

Untuk mengetahui apakah semua variabel independen dalam model regresi ini mempunyai pengaruh signifikan secara simultan atau tidak terhadap volume kredit dilakukan uji F (F test). Hasil F tabel yang diperoleh melalui perhitungan di Microsoft excel (FINV) adalah 2,534 .Dari tabel 5 (lampiran) dapat dilihat bahwa Fhitung > Ftabel (338,081>2,534) dan signifikansi <0,05 maka Ha diterima dan Ho ditolak . Hal ini berarti variabel DPK, CAR, ROA dan NPL secara simultan mempengaruhi volume kredit.

Untuk mengetahui apakah variabel independen dalam model regresi mempunyai pengaruh yang nyata atau signifikan terhadap variabel dependen, dilakukan pengujian dengan menggunakan uji t (T test). Hasil t tabel yang diperoleh melalui perhitungan di Microsoft excel (TINV) adalah 1,999 .Pada tabel 6 (lampiran) dapat dilihat bahwa variabel LN_DPK (X1) dan LN_ROA (X3) memiliki nilai t hitung > t tabel (28,885>1,999 dan 2,583>1,999) dengan signifikansi 0,000 dan 0,012 yang lebih kecil dari 0,05 artinya variabel DPK dan ROA berpengaruh signifikan secara parsial terhadap volume kredit. Sedangkan variabel LN_CAR (X2) dan LN_NPL (X4) memiliki nilai t hitung < t tabel (0,727<1,999 dan 1,706<1,999) dengan signifikansi 0,470 dan 0,093 yang lebih besar dari 0,05 artinya variabel CAR dan NPL tidak berpengaruh signifikan secara parsial terhadap volume kredit.

4.6 Pembahasan hasil penelitian

Dari hasil pengujian variabel secara parsial, variabel dana pihak ketiga (DPK) dan ROA (return on asset) berpengaruh signifikan terhadap volume kredit sedangkan CAR (capital adequacy ratio) dan NPL (non performing loan) tidak berpengaruh signifikan terhadap volume kredit. Hal ini dapat dilihat dari nilai t hitung dan t tabel serta signifikansi masing-masing variabel tersebut.

Dana pihak ketiga (DPK) dapat digunakan memprediksi volume kredit. Dari hasil uji statistik yang dilakukan, dana pihak ketiga memiliki pengaruh positif terhadap volume kredit. Hasil uji t , LN_DPK yang menunjukkan variabel dana pihak ketiga memiliki nilai signifikansi t sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05 artinya variabel dana pihak ketiga (DPK) secara parsial berpengaruh terhadap volume kredit. Hasil ini mendukung teori yang dikemukan oleh Warjiyo (2005:432) yang mengatakan bahwa dana yang dihimpun oleh perbankan dari masyarakat akan digunakan untuk pendanaan aktivitas sektor riil melalui penyaluran kredit dan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat banyak seperti yang disebutkan dalan UU No.10 tahun 1998. Hasil ini juga sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Meydianawathi (2006) dan Harmanta dan Ekananda (2005) yang menunjukkan bahwa peningkatan dana pihak ketiga akan diikuti dengan peningkatan penyaluran volume kredit oleh perbankan.

CAR (Capital Adequacy Ratio) tidak dapat digunakan untuk memprediksi volume kredit karena dari hasil uji secara parsial menunjukkan tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel ini dengan volume kredit, dimana nilai signifikansi t sebesar 0,727 yang lebih besar dari 0,05 . Perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan sampel yang digunakan. Meskipun hasilnya tidak signifikan, bukan berarti bank dapat mengabaikan CAR dalam penyaluran kredit karena kecukupan modal bank sering terganggu karena penyaluran kredit yang berlebihan. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Meydianawathi (2006), yang menemukan bahwa capital adequacy ratio berpengaruh signifikan terhadap volume kredit.

ROA (Return on asset) dapat digunakan untuk memprediksi volume kredit. Hasil uji t , LN_ROA yang menunjukkan variabel return on asset memiliki nilai signifikansi t sebesar 0,012 yang lebih kecil dari 0,05 artinya variabel return on asset (ROA) secara parsial berpengaruh terhadap volume kredit. Hasil ini mendukung teori yang dikemukakan oleh Muliaman Hadad (2004:22) yang mengatakan return on asset yang tinggi menunjukkan bank telah menyalurkan kredit dan memperoleh pendapatan, sehingga diperkirakan return on asset dan volume kredit memiliki hubungan yang positif. Hasil ini juga sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Mahrinasari (2003) yang menunjukkan return on asset (ROA) mempunyai hubungan positif dengan volume kredit.

NPL (Non performing loan) tidak dapat digunakan untuk memprediksi volume kredit karena dari hasil uji secara parsial menunjukkan pengaruh negatif tetapi tidak signifikan antara variabel ini dengan volume kredit, dimana nilai signifikansi t sebesar 0,093 yang lebih besar dari 0,05 . Perbedaan ini kemungkinan disebabkan perbedaan sampel yang digunakan. Hasil ini sesuai dengan teori yang dikemukakan yang mengatakan kredit bermasalah berbanding terbalik dengan volume kredit. Namun hasil ini tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Meydianawathi (2006), yang menemukan NPL berpengaruh signifikan terhadap volume kredit. Hasil ini juga berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Harmanta dan Ekananda (2005).

Dari hasil pengujian secara bersama-sama, dapat disimpulkan bahwa dana pihak ketiga, capital adequacy ratio, return on asset dan non performing loan berpengaruh signifikan terhadap volume kredit , yang ditunjukkan dengan nilai F hitung > F tabel dan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Nilai adjusted R square 0,937 mengindikasikan bahwa 93,7% variasi perubahan dalam volume kredit dapat dijelaskan oleh variabel dana pihak ketiga, capital adequacy ratio, return on asset dan non performing loan. Sedangkan sisanya 6,3% dijelaskan oleh sebab-sebab lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian. Dengan demikian berarti kemampuan variabel independen dalam memprediksi variabel dependen tinggi.



5. KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa:

a. berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dana pihak ketiga (X1) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap volume kredit. Hal ini dapat dilihat dari t hitung > t tabel (28,885 > 1,999) dan nilai signifikan (0,000 > 0,05). Pengaruh positif dan signifikan dana pihak ketiga terhadap volume kredit sebesar 0,912 artinya setiap kenaikan dana pihak ketiga sebesar satu satuan (1%) akan diikuti kenaikan volume kredit sebesar 91,2% . Hal ini sesuai teori yang dikemukakan bahwa dana pihak ketiga akan mendukung penyaluran kredit oleh perbankan.

b. CAR (X2) memiliki pengaruh positif dan tidak signifikan terhadap volume kredit. Besar t hitung < t tabel (0,727 < 1,999) dengan nilai signifikansi (0,470 > 0,05). Hal ini dapat dikatakan bahwa tidak setiap kenaikan volume kredit akan diikuti oleh kenaikan modal, dimana bank tetap dapat meningkatkan kredit selama peningkatan kredit tersebut tidak menjadikan modal bank di bawah ketetapan 8 % Bank Indonesia. c. ROA (X3) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap volume kredit. Besar t hitung > t tabel (2,583 > 1,999) dengan nilai signifikansi (0,012 < 0,05). Setiap kenaikan return on asset 1% akan diikuti dengan kenaikan volume kredit sebesar 18,3% . Hal ini sesuai teori yang dikemukakan Muliaman Hadad (2004) yang memperkirakan return on asset dan kredit memiliki hubungan yang positif. Hal ini juga dapat dikatakan bahwa jika penyaluran kredit bank meningkat maka hal ini juga akan meningkatkan pendapatan perbankan.

d. NPL (X4) memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap volume kredit. Besar t hitung > t tabel (1,706 < 1,999) dengan nilai signifikansi (0,093 > 0,05). Hal ini sesuai teori yang mengatakan kredit bermasalah berbanding terbalik dengan volume kredit. Meskipun tidak signifikan, namun bukan berarti bank dapat mengabaikan non performing loan ini, karena penambahan kredit tanpa disertai analisis yang baik dapat meningkatkan kredit bermasalah. Hasil ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang menemukan NPL berpengaruh signifikan.

e. variabel independen (dana pihak ketiga, capital adequacy ratio, return on asset dan non performing loan) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen (volume kredit). Kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen sebesar 93,7% sedangkan sisanya 6,3% dijelaskan variabel lain yang tidak diteliti.

5.1 Keterbatasan Hasil Penelitian

Penelitian ini memiliki keterbatasan, antara lain:

a. sampel yang digunakan hanya bank yang go public di Indonesia dan listing di Bursa Efek Jakarta (Indonesia), sehingga tidak diketahui bagaimana pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen pada bank umum yang tidak go public dan bank devisa.

b. penulis hanya menggunakan rasio dana pihak ketiga, capital adequacy ratio, return on asset dan non performing loan yang terbatas pada faktor internal bank, sedangkan faktor internal lain dan faktor eksternal yang mempengaruhi volume kredit tidak dimasukkan dalam penelitian.

5.2 Saran

a. Bagi manajemen bank agar tetap memperhatikan dana pihak ketiga, capital adequacy ratio, return on asset dan non performing loan dalam melaksanakan kegiatan operasionalnya karena variabel ini akan mempengaruhi besarnya volume kredit yang disalurkan bank serta mengikutsertakan faktor internal lain seperti batas maksimum pemberian kredit dan faktor eksternal seperti peraturan moneter yang berlaku, suku bunga dan lain sebagainya.

b. Bagi peneliti lain agar menggunakan populasi yang lebih luas dan sampel yang lebih banyak serta periode pengamatan yang lebih lama sehingga hasil yang diperoleh lebih akurat.

c. Bagi peneliti lain yang tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut, sebaiknya menambahkan variabel lain seperti faktor eksternal sehingga diperoleh hasil yang lebih akurat lagi.



DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. Faisal, 2005. Manajemen Perbankan, Edisi Kelima, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang.



Bastian, Indra dan Suhardjono, 2006. Akuntansi Perbankan, Edisi Pertama, Salemba Empat, Jakarta.



Dendawijaya, Lukman, 2005. Manajemen Perbankan, Ghalia Indonesia, Jakarta.



Erlina, Sri Mulyani, 2007. Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen, Edisi Pertama, USU Press, Medan.



Ghozali, Imam,2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.



Hadad, Muliaman,2004. “Fungsi Intermediasi Dalam Mendorong Sektor Riil”,

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Desember 2004.



Harmanta dan Ekananda, 2005. “Disintermediasi Fungsi Perbankan di Indonesia Pasca Krisis 1997: Faktor Permintaan atau Penawaran Kredit”, Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Juni 2005.



Irmayanto, Juli dkk, 2004. Bank dan Lembaga Keuangan, Edisi Kedua, Universitas Trisakti. Jakarta.



Jogiyanto, 2004. Metodologi Penelitian Bisnis, Edisi 2005, Cetakan Pertama, BPFE, Yogyakarta.



Jurusan Akuntansi Falkultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara, 2004. Buku Petunjuk Teknis Penulisan Proposal Penelitian dan Penulisan Skripsi Jurusan Akuntansi, Falkultas Ekonomi USU, Medan.



Mahrinasari, 2003. “Pengelolaan Kredit pada Bank Perkreditan Rakyat di Kota Bandarlampung”, Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Nomor 3 Jilid 8, Universitas Lampung, Lampung, hal 111



Manurung, Mandala dan Prathama Raharja, 2004. Uang, Perbankan dan Ekonomi Moneter, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.



Meydianawati, Luh Gede, 2006. “Analisis Perilaku Penawaran Kredit Perbankan kepada Sektor UMKM di Indonesia (2002-2006)”, Buletin Studi Ekonomi, Volume 12 Nomor 2, hal 14.





Mulyono, Teguh Pudjo, 1996. Bank Budgeting, Edisi I, Badan Pendidikan Fakultas Ekonomi, Yogyakarta.



Nachrowi, Djalal, Hardius Usman, 2006. Pendekatan Populer dan Praktis Ekonometrika Untuk Analisis Ekonomi dan Keuangan, Fakultas Ekonomi-Universitas Indonesia, Jakarta.



Santoso, Totok Budi, 2004. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Salemba

Empat, Jakarta.



Santoso, Singgih, 2002. Buku Latihan Statistik Parametrik. Alex Media Komputindo, Jakarta.



Sastradipoera, Komaruddin, 2004. Strategi Manajemen Bisnis Perbankan, Edisi Pertama, Kappa Sigma, Bandung.



Siamat, Dahlan, 2005. Manajemen Lembaga Keuangan, Edisi Kelima, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.



Simorangkir, O.P, 2004. Pengantar Lembaga Keuangan Bank dan NonBank, Cetakan Kedua, Ghalia Indonesia, Jakarta.



Sinungan, Muchdarsyah, 1993. Manajemen Dana Bank, Bumi Aksara, Jakarta.



Sugiono, 2006. Metode Penelitian Bisnis, Cetakan kesembilan, Alfabeta, Bandung.



Umar, Husein, 2001. Riset Akuntansi; Metode Riset Sebagai Cara Penelitian Ilmiah, Gramedia Pustaka, Jakarta.



Warjiyo, Perry, 2004. “Stabilitas Sistem Perbankan dan Kebijakan Moneter”, Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 2004.



Bank Indonesia, 2001. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia, Jakarta



Indonesia Stock Exchange, 2008, laporan keuangan/detail/soft copy laporan keuangan. www.idx.co.id, Download tgl 16 April.



Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 5/21/PBI/2001 Tahun 2001 tentang Kewajiban Penyertaan Modal Minimum Bank Umum.



Republik Indonesia,1998. Undang-undang No.10 Tahun 1998 tentang Perubahan Undang-undang No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar