Minggu, 06 Juni 2010

PENGARUH PERPUTARAN PERSEDIAAN TERHADAP LIKUIDITAS PADA PERUSAHAAN BARANG KONSUMSI YANG TERDAFTAR DI BEI

ASTI LAMRIAMA SIANTURI

Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara

SRI MULYANI

Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara


The objective of this research is to know the influence inventory turnover to the liquidity of the consumer goods companies that listed in BEI since 2005 up to 2007. Liquidity measured with current ratio. Variable that used in this research are inventory turnover as independent variable and liquidity as dependent variable.Population of this research are the manufacturing companies at consumer goods sector that listed in BEI in period 2005 up to 2007. The amount of sample that used in this research are 33 companies. Sampling method that used in this research is purposive sampling method (judgement sampling). Hypothesis testing by linear regresion analysis.Statistical testing with t-test and linear regresion analysis, classic assumption testing before t-test and linear regresion analysis. The result of this research shows that inventory turnover influence to liquidity of the consumer goods companies that listed in BEI .

Keyword: Inventory turnover, Current Ratio, Liquidity.

1. Pendahuluan

Setiap perusahaan dalam menjalankan kegiatan usahanya tidak terlepas dari tujuan utamanya yaitu untuk memperoleh laba yang maksimal dan kelangsungan hidup perusahaan (going concern). Kelangsungan hidup perusahaan dipengaruhi oleh banyak hal antara lain likuiditas perusahaan itu sendiri. Menurut Wild et al. (2005:185) “Likuiditas (liquidity) mengacu pada kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya”. Pentingnya likuiditas dapat dilihat dengan mempertimbangkan dampak yang berasal dari ketidakmampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Kurangnya likuiditas menghalangi perusahaan untuk memperoleh keuntungan dari diskon atau kesempatan mendapatkan keuntungan.

Ada banyak ukuran yang dipakai untuk melihat kondisi likuiditas suatu perusahaan, antara lain dengan menggunakan rasio lancar. Rasio ini menunjukkan sejauh mana aktiva lancar menutupi kewajiban-kewajiban lancar yang dimiliki perusahaan tersebut. Semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan kewajiban lancar maka semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya. Persediaan merupakan unsur dari aktiva lancar yang merupakan unsur yang aktif dalam operasi perusahaan yang secara terus-menerus diperoleh, diubah, dan kemudian dijual kepada konsumen.Dengan adanya pengelolaan persediaan yang baik, maka perusahaan dapat segera mengubah persediaan yang tersimpan menjadi laba melalui penjualan yang kemudian bertransformasi menjadi kas atau piutang. Semakin tingginya tingkat perputaran persediaan menyebabkan perusahaan semakin cepat dalam melakukan penjualan barang dagang sehingga semakin cepat pula bagi perusahaan dalam memperoleh dana baik dalam bentuk uang tunai (kas) ataupun piutang. Besar kecilnya aktiva lancar tersebut nantinya akan turut mempengaruhi rasio lancarnya.

Perusahaan yang bergerak di industri barang konsumsi merupakan perusahaan yang memproduksi barang yang setiap hari dipakai oleh masyarakat. Persaingan berbagai perusahaan yang bergerak di sektor ini semakin kompetitif, hal ini dapat dilihat dari semakin pesatnya perkembangan perusahaan-perusahaan tersebut. Berdasarkan penjelasan di atas maka penulis tertarik untuk meneliti hubungan antara perputaran persediaan terhadap likuiditas dengan menjadikan perusahaan barang konsumsi yang terdaftar di BEI sebagai objek penelitian dalam skripsi yang berjudul ”Pengaruh Perputaran Persediaan Terhadap Likuiditas pada Perusahaan Barang Konsumsi yang Terdaftar di BEI”.

2. Tinjauan Pustaka

2.1 Persediaan

Persediaan adalah barang-barang yang biasanya dapat dijumpai di gudang tertutup, lapangan, gudang terbuka, atau tempat-tempat penyimpanan lain, baik berupa bahan baku, barang setengah jadi, barang jadi, barang-barang untuk keperluan operasi, atau barang-barang untuk keperluan suatu proyek (Indrajit, 2003:3).

Menurut Stice, et al. (2004:667) metode-metode penilaian persediaan yang paling umum ada 4 macam.

a. Identifikasi Khusus (Spesific Identification)

Biaya dapat dialokasikan ke barang yang terjual selama periode berjalan dan ke barang yang ada di tangan pada akhir periode berdasarkan biaya aktual dari unit tersebut. Metode identifikasi khusus memerlukan suatu cara untuk mengidentifikasikan biaya historis dari unit persediaan. Dengan identifikasi khusus, arus biaya yang dicatat disesuaikan dengan arus fisik barang. Dari sudut pandang teoritis, metode identifikasi khusus sangat menarik, khususnya ketika setiap unsur persediaan unik dan memiliki biaya yang tinggi. Namun ketika persediaan terdiri dari berbagai unsur atau unsur-unsur identik yang dibeli pada saat yang berlainan dengan harga yang berbeda, maka identifikasi khusus akan menjadi lamban, membebani, dan memakan biaya.

b.Biaya Rata-rata (average weight)

Metode biaya rata-rata membebankan biaya rata-rata yang sama ke setiap unit. Metode ini didasarkan pada asumsi bahwa barang yang terjual seharusnya dibebankan dengan biaya rata-rata, yaitu rata-rata tertimbang dari jumlah unit yang dibeli pada tiap harga.. Tidak seperti metode persediaan yang lain, pendekatan metode biaya rata-rata memberikan nilai yang sama untuk unsur serupa dengan penggunaan yang sama. Metode ini tidak memperbolehkan manipulasi keuntungan. Tetapi, keterbatasan dari metode biaya rata-rata ini adalah bahwa nilai persediaan dapat tertinggal secara signifikan terhadap harga dalam periode di mana terdapat kenaikan atau penuruynan harga yang cepat.

c.Metode Masuk Pertama, Keluar Pertama (First-in, First-out, FIFO)

Metode masuk pertama, keluar pertama (first-in, first-out, FIFO) didasarkan pada asumsi bahwa unit yang terjual adalah unit yang lebih dahulu masuk. FIFO memberikan kesempatan kecil untuk manipulasi keuntungan karena pembebanan biaya ditentukan oleh urutan terjadinya biaya. Selain itu, dalam FIFO, unit yang tersisa pada persediaan akhir adalah unit yang paling akhir dibeli, sehingga biaya yang dilaporkan akan mendekati atau sama dengan biaya penggantian di akhir periode (end-of-period replacement cost).

d.Metode Masuk Terakhir, Keluar Pertama (Last-in, First-out, LIFO)

Metode masuk terakhir, keluar pertama (last-in, first-out, LIFO) didasarkan pada asumsi bahwa barang yang paling barulah yang terjual. LIFO menghasilkan nilai lama dalam neraca dan dapat memberikan angka harga pokok penjualan yang aneh ketika tingkat persediaan menurun. Namun, LIFO adalah metode yang paling baik dalam pengaitan biaya persediaan saat ini dengan pendapatan saat ini.

Menurut Warren, et al. (2005:456) selain metode penilaian persediaan di atas, masih ada metode 2 penilaian persediaan yang lainnya.

a) Penilaian pada Mana yang Lebih Rendah antara Harga Pokok atau Harga Pasar.

Metode mana yang lebih rendah antara harga pokok atau harga pasar (lower-cost-or-market method, LCM) digunakan untuk menilai persediaan. Harga pasar, yang digunakan dalam LCM, adalah biaya untuk mengganti barang dagang pada tanggal persediaan. Nilai pasar ini didasarkan pada jumlah yang biasanya dibeli dari sumber pemasok yang biasa.

b) Penilaian pada Nilai Realisasi Bersih

Barang dagang yang telah usang, rusak, cacat, atau yang hanya bisa dijual dengan harga di bawah harga pokok harus diturunkan nilainya. Barang dagang semacam ini harus dinilai dengan nilai realisasi bersih. Nilai realisasi bersih (net realizable) adalah estimasi harga jual dikurangi biaya pelepasan langsung, seperti komisi penjualan.

Horngren et al. (1997:453-456) mengemukakan bahwa jenis usaha yang berbeda memiliki kebutuhan informasi persediaan yang berbeda pula. Ada dua sistem pencatatan persediaan.

  1. Sistem Persediaan Perpetual

Dalam sistem perpetual, perusahaan akan mencatat setiap mutasi yang terjadi pada persediaan barangnya. Jadi akun Persediaan akan selalu menunjukkan nilai persediaan pada setiap saat.

  1. Sistem Persediaan Periodik

Dalam sistem periodik, perusahaan tidak selalu mencatat mutasi yang terjadi pada persediaan yang dimilikinya. Akibatnya, pada akhir periode, perusahaan harus melakukan perhitungan secara fisik untuk mengetahui jumlah persediaan yang dimiliki pada saat itu.

Menurut Yamit (2005:9), biaya-biaya yang timbul dalam persediaan terbagi atas lima.

1) Biaya Pembelian (purchase cost)

2) Biaya Pemesanan (order cost/set up cost)

3) Biaya Simpan (carrying cost/holding cost)

4) Biaya Kekurangan Persediaan

2.2 Perputaran Persediaan

Menurut Horngren, et al (1997:250) ” Perputaran Persediaan adalah rasio antara harga pokok penjualan terhadap persediaan rata-rata menunjukkan seberapa cepat persediaan tersebut dapat dijual”. Rasio ini dihitung sebagai berikut :

Persediaan rata-rata dapat dihitung dengan menggunakan angka-angka mingguan, bulanan, atau tahunan.

2.3 Likuiditas

Likuiditas mengacu pada ketersediaan sumber daya perusahaan untuk memenuhi kebutuhan kas jangka pendek (Wild et al, 2005:185). Menurut Syahyunan (2004:83), rasio yang biasa digunakan untuk mengukur likuiditas, yaitu Current Ratio, Quick Ratio, Cash Ratio, dan Net Working Capital.

Rasio likuiditas terbagi atas empat.

a. Rasio Lancar (current ratio)

Rasio Lancar =

b. Rasio Cepat (quick ratio)

Rasio Cepat =

c.Rasio Kas (cash ratio)

Rasio Kas =

d. Modal Kerja Bersih (net working capital)

Modal Kerja Bersih = Aktiva Lancar-Kewajiban Lancar

2.4 Kerangka konseptual

Pentingnya likuiditas dapat dilihat dengan mempertimbangkan dampak yang berasal dari ketidakmampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Keadaan likuiditas perusahaan dapat diukur dengan menggunakan rasio-rasio likuiditas, dalam penelitian ini rasio yang digunakan yaitu rasio lancar. Rasio lancar menunjukkan sejauh mana aktiva lancar suatu perusahaan mampu untuk memenuhi kewajiban lancarnya tepat pada waktunya. Persediaan merupakan salah satu bagian aktiva lancar yang nantinya akan dirubah menjadi barang dagang yang akan dijual kepada pihak lain.

Penjualan tersebut nantinya akan menghasilkan kas atau piutang bagi perusahaan yang kemudian akan digunakan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya (kewajiban lancar). Sehingga semakin tinggi perputaran persediaan berarti semakin cepat bagi perusahaan untuk memperoleh aliran kas dan membantu perusahaan untuk meningkatkan likuiditas perusahaan tersebut. Likuiditas perusahaan yang baik turut berperan dalam operasi perusahaan tersebut.

Yang menjadi kerangka konseptual penelitian ini adalah :

2.5 Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah dan kerangka konseptual, hipotesis dalam penelitian ini adalah :perputaran persediaan berpengaruh terhadap likuiditas pada perusahaan barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

3. Metode Penelitian

Penelitian yang dilakukan menggunakan desain kausal. Desain kausal berguna untuk menganalisis hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya atau bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lainnya ( Umar, 2006:63). Jadi, ada variabel independen (variabel yang mempengaruhi) dan variabel dependen (variabel yang dipengaruhi). Dalam penelitian ini dilihat bagaimana perputaran persediaan (variabel independen) mempengaruhi likuiditas perusahaan (variabel dependen). Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas : obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2007:72). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan barang konsumsi yang terdaftar di BEI, yaitu berjumlah 35 perusahaan

Sampel adalah bagian dari populasi yang digunakan untuk memperkirakan karakteristik populasi. Teknik pengambilan sampel yaitu menggunakan teknik Purposive Sampling. Pengambilan sampel dilakukan dengan mengambil sampel dari populasi berdasarkan suatu kriteria tertentu. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini dipilih berdasarkan kriteria sebagai berikut :

1. perusahaan terdaftar di BEI pada tahun 2005-2007

2. menerbitkan laporan keuangan yang diaudit periode tahun 2005-2007

3. data yang dimiliki perusahaan lengkap dan sesuai dengan variabel yang diteliti.

Berdasarkan kriteria tersebut maka sampel yang digunakan berjumlah 33 perusahaan, penelitian berlangsung selama 3 tahun sehingga jumlah observasi/amatan adalah 99 buah. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang diolah bersumber dari perusahaan yang diteliti. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang berupa laporan keuangan yaitu laporan neraca perusahaan dan catatan atas laporan keuangan perusahaan barang konsumsi yang terdaftar di BEI dan Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan menggunakan teknik dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data dengan cara pengumpulan, pencatatan, dan pengcopyan laporan-laporan keuangan. Sumber data penelitian yaitu situs BEI yaitu www.idx.co.id dan Indonesian Capital Market Directory (ICMD).

4. Metode Analisa Data

4.1 Pengujian asumsi klasik

Penelitian ini menggunakan analisis regresi sederhana. Penggunaan analisis regresi sederhana harus bebas dari pengujian asumsi klasik. Untuk itu, sebelum dilakukan analisis regresi sederhana harus dilakukan pengujian asumsi klasik terlebih dahulu. Pengujian asumsi klasik dilakukan dengan menggunakan uji normalitas, uji heterokedastisitas dan uji autokorelasi. Uji normalitas menggunakan Uji Kolmogrov Smirnov, histogram, dan grafik normality probability plot. Uji heterokedastisitas menggunakan Grafik Scatterplot dan Uji Glejser sedangkan uji autokorelasi menggunakan uji Durbin-Wattson

4.2 Analisis Regresi

Analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linier sederhana. Analisis regresi dengan menggunakan software SPSS 16.

Persamaan umum regresi linear sederhana yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:

Y = a+bX+ e

Keterangan :

Y : variabel dependen (Likuiditas Perusahaan)

a : konstanta atau harga Y bila X = 0

b :angka atau arah koefisien regresi, yang menunjukkan angka peningkatan ataupun penurunan variabel dependen yang didasarkan pada variabel independen

X : variabel independen (Perputaran Persediaan)

e : tingkat kesalahan pengganggu / error

4.3 Pengujian Hipotesis

1) Uji t (t-test)

Pengujian-t (t-test) digunakan untuk menentukan perbedaan signifikansi secara statistik antara nilai rata-rata suatu distribusi sampel dengan parameter populasinya yang bertipe parametrik. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana variabel independen mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.

2) Koefisien Korelasi dan Koefisien Determinasi

Nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,213 , yang berarti bahwa korelasi atau hubungan antara variabel dependen yaitu rasio lancar dengan variabel independennya yaitu perputaran persediaan adalah tidak kuat, karena lebih kecil dari 0,5. Nilai koefisien determinasi (R square) sebesar 0,045 menunjukkan bahwa perputaran persediaan hanya mampu menjelaskan variabel dependen rasio lancar sebesar 4,5%. Analisis koefisien determinasi (Adjusted R Square) dengan nilai 0,035 yang berarti hanya 3,5% variasi dari rasio lancar dijelaskan oleh variasi dari variabel independen yaitu perputaran persediaan/inventory turnover), sedangkan sisanya 96,5% dijelaskan oleh variasi atau faktor lainnya yang mempengaruhi rasio lancar.

5. Kesimpulan dan Saran

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, dapat diambil dua kesimpulan dari penelitian ini.

1) Korelasi / hubungan antara variabel independen perputaran persediaan dengan variabel dependen yaitu likuiditas yang diukur dengan rasio lancar adalah tidak kuat. Hal ini berarti perputaran persediaan tidak cukup mampu untuk dapat menjelaskan likuiditas di suatu perusahaan.

2) Perputaran persediaan berpengaruh secara signifikan dan positif terhadap likuiditas suatu perusahaan. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji t yang menunjukkan t-hitung sebesar 2,143 dengan nilai signifikan 0,035 sedangkan t-tabel sebesar 1,984723 sehingga t-hitung > t-tabel. Artinya bahwa semakin meningkat perputaran persediaan, maka semakin meningkat pula likuiditas suatu perusahaan, yang berarti semakin besar kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban lancar atau kewajiban jangka pendek yang dimilikinya. Demikian juga sebaliknya apabila semakin berkurang perputaran persediaan, maka semakin rendah pula likuiditas suatu perusahaan, yang berarti semakin kecil kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban lancar atau kewajiban jangka pendek yang dimilikinya.

5.2 Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Keterbatasan-keterbatasan tersebut antara lain:

1. penelitian ini hanya mengambil satu buah variabel yaitu perputaran persediaan (inventory turnover) sebagai variabel independen, namun sebenarnya masih banyak variabel lain yang dapat mempengaruhi likuiditas perusahaan misalnya variabel perputaran piutang, modal kerja, kas dan sebagainya,

2. periode pengamatan yang digunakan dalam penelitian ini terbatas karena hanya mencakup tahun 2005-2007.

5.3 Saran

Beberapa saran yang dapat diberikan berkaitan dengan hasil penelitian ini dapat ditujukan bagi pihak yang membutuhkannya.

1. Bagi Perusahaan

Untuk meningkatkan kepercayaan pemegang saham terhadap perusahaan, maka perusahaan harus mampu menunjukkan kinerja perusahaan yang baik dan menyampaikan informasi kepada investor mengenai perkembangan perusahaan. Pengumuman mengenai keadaan likuiditas perusahaan merupakan informasi penting yang harus disampaikan oleh perusahaan pada pemegang saham.

2. Bagi Investor

Untuk mengetahui bagaimana kinerja perusahaan sebelum melakukan investasi, sebaiknya para investor maupun calon investor mencari tahu mengenai bagaimana profil suatu perusahaan. Profil perusahaan dapat diperoleh melalui Bursa Efek Indonesia sehingga kualitas laporan keuangan perusahaan lebih akurat dan relevan.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Peneliti selanjutnya disarankan untuk menggunakan sampel lain yang lebih banyak dengan karakteristik yang lebih beragam dari berbagai sektor industri dan memperpanjang periode penelitian. Penelitian yang lain juga sebaiknya menambah variabel independen yang turut mempengaruhi likuiditas perusahaan. Hal ini karena likuiditas perusahaan tidak hanya ditentukan oleh pengaruh perputaran persediaan saja akan tetapi juga dipengaruhi oleh perputaran piutang, aktiva lancar, kewajiban lancar serta modal kerja.

REFERENCES

Erlina dan Sri Mulyani, 2007. Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen, Edisi Pertama, USU Press, Medan.

Horngren, Charles T., Walter T. Harrison Jr,. Michael A. Robinson., 1997. Akuntansi di Indonesia, Edisi Pertama, Alih Bahasa oleh Thomas H. Secokusumo, Salemba Empat, Jakarta

Ikatan Akuntan Indonesia, 2004. Standar Akuntansi Keuangan, Salemba Empat, Jakarta

Indrajit, Richardus E dan Richardus Djokopranoto, 2003. Manajemen Persediaan, Edisi Pertama, Grasindo, Jakarta

Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara, 2004. Buku Petunjuk Teknis Penulisan Proposal Penelitian dan Penulisan Skripsi, Medan.

Jogiyanto, 2004. Metodologi Penelitian Bisnis, Edisi Pertama, BPFE, Yogyakarta.

Rangkuti, Freddy, 2004. Manajemen Persediaan (Aplikasi di Bidang Bisnis), Cetakan Keenam, RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Santoso, Singgih, 2002. Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik, Elex Media Computindo, Jakarta

Sartono, R.Agus, 2001. Manajemen Keuangan (Teori dan Aplikasi), Edisi Keempat, BPFE, Yogyakarta.

Simamora, J.Melda D, 2007. Pengaruh Perputaran Piutang terhadap Likuiditas Perusahaan pada PT. Pertani (Persero) Wilayah Sumatera bagian Utara. Universitas Sumatera Utara.

Stice, Earl K., James D. Stice, dan Fred Skousen, 2004. Akuntansi Keuangan Menengah, Edisi Kedua, Salemba Empat, Jakarta.

Sumarni, 2008. “Pengaruh Simpanan Deposito dan Kredit Jangka pendek Terhadap Likuiditas Pada BPR Arta Daya cabang Palur Karanganyar”, Skripsi, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.

Sugiyono, 2007. MetodePenelitian Bisnis, Cetakan Kesepuluh, Alfabeta, Bandung.

Syahyunan, 2004. Manajemen Keuangan I (Perencanaan, Analisis, dan Pengendalian Keuangan), Cetakan pertama, USUpress Publishing & Printing, Medan.

Umar, Husein, 2003. Metode Riset Akuntansi Terapan, Ghalia Indonesia, Jakarta.

Warren, Carl S., James M. Reeve, dan Philip E. Fees, 2005. Pengantar Akuntansi, Edisi Kedua Puluh Satu, Alih Bahasa oleh Aria Farahmita, Amanugrahani dan Taufik Hendrawan, Salemba Empat, Jakarta.

Warsono, 2003. Manajemen Keuangan Perusahaan, Jilid 1, Bayumedia Publishing, Malang.

Wild, John J., K.R. Subramanyan, dan Robert E. Haley, 2005. Financial Statement Analysis (Analisis Laporan Keuangan), Edisi Kedelapan, Buku Kedua, Alih Bahasa oleh Yanivi S. Bachtiar dan S. Nurwahyu Harahap, Salemba Empat, Jakarta.

Yamit, Zulian, 2005. Manajemen Persediaan, Cetakan Ketiga, Ekonisia, Yogyakarta

www.idx.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar